Bangga di Panggung, Pegawai Gelisah di Kampung: Kontroversi Penghargaan Bupati Batang Hari
Jakarta – Batang Hari — Di tengah keresahan pegawai dan perangkat desa yang belum menerima gaji serta tunjangan, Bupati Batang Hari Mhd. Fadhil Arief tampil percaya diri menerima penghargaan Cahaya Hati Award 2026 di Jakarta Concert Hall, iNews Tower, 14–15 Maret 2026.
Penghargaan bergengsi dari iNews TV itu diberikan dalam kategori Pemimpin Daerah atas Dedikasi dan Kepedulian Sosial. Sang bupati tampil tebah dada, seolah menepis kritik yang sedang bergulir di daerahnya.
Namun, di Muara Bulian dan seantero Batang Hari, suara publik justru memanas. Gaji perangkat desa Oktober–Desember 2025 belum cair, ditambah gaji Januari–Maret 2026 yang masih tertunda. Menjelang Idul Fitri, THR dan tunjangan ASN pun belum ada kepastian, padahal aturan jelas mewajibkan pembayaran paling lambat 10 hari sebelum Lebaran. Kontras semakin tajam ketika daerah lain seperti Kota Jambi, Provinsi Jambi, dan Kabupaten Tebo sudah menyalurkan THR ASN, sementara Batang Hari masih bungkam.
Seorang ASN Batang Hari menyindir, “Pemerintah meminta swasta membayar THR tepat waktu, tapi pemerintah sendiri tidak memberi kepastian. Di mana hati nurani pemimpin kami?” Sementara tokoh masyarakat Muara Bulian menilai penghargaan itu hanyalah pencitraan, bukan cerminan kondisi nyata.
Media nasional seperti ANTARA menulis bahwa penghargaan ini disebut sebagai bukti kontribusi nyata bagi kemanusiaan dan kemajuan bangsa. Namun bagi masyarakat Batang Hari, penghargaan tersebut justru memperlihatkan jurang antara citra kepemimpinan di panggung nasional dengan realitas kesejahteraan pegawai di kampung halaman.
Pertanyaan publik kini menggema: apakah penghargaan nasional layak diberikan jika kondisi lokal justru penuh masalah kesejahteraan?(Red)**
